Artikel terbaru

Heart, artinya hati apa jantung sih?

Arti hati dan jantung
Pernah kepikiran ga sih sama makna Hati? sebenernya hati itu jantung apa Liver (nama hati dalam dunia biologi) Aku jatuh hati padamu atau aku jatuh jantung padamu? Kok aneh yaa? mana yang bener. Hmm, kalo menurut Google translate Heart memiliki duu makna, bisa jantung, bisa juga hati. Sebenernya kata-kata ini agak ambigu. Yaitu bermakna ganda. kalo menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Hati itu artinya 1. Tempat menyaring racun, dan 2. Tempat berkumpulnya, emosi dan segala perasaan manusia.

Mari kita tinjau dari historikal sejarahnya. Ada dua buah jurnal yang merujuk pada ilmu anatomi awal pada masa Yunani kuno. Pada masa itu, masyarakat percaya bahwa dalam darah mengalir jiwa. Karena pada saat mempelajari anatomi tubuh binatang, hati adalah organ yang paling banyak mengandung darah, maka ahli meyakini bahwa di dalam hati lah terletak jiwa (soul). Karena itulah persembahan jiwa pada masa itu adalah menggunakan hati binatang. Pengakuan hati sebagai organ paling vital bisa ditelusur pada karya sastra sezaman.

Peristiwa pembunuhan tidak melukai otak ataupun jantung, tapi hati. Protomeus dihukum Zeus dengan menyuruh elang raksasa memakan hatinya. Hades menghukum Tytos dengan mnyuruh dua burung bangkai mematuki hatinya. Selain itu lihat kata Life atau Live yang memiliki kemiripan dengan liver-yang mungkin berakar pada hal yang sama. Bahasa Jerman pun seperti itu, hidup (leben) dan hati (leber). Kata hati banyak dipakai di negara-negara dunia untuk menyimbolkan keberanian atau perasaan. Jadi kata-kata yang sekarang di dunia barat didominasi oleh jantung seperti, lion-herted, stony-hearted, heartless, broken heart, dan sebagainya. Pada waktu dulu hal ini dipegang oleh hati.

Jika dalam bahasa Indonesia perasaan seseorang diartikan sebagai “hati” yang berfungsi sebagai penawar racun. Dalam bahasa Inggris, Jepang dan Arab perasaan seseorang diartikan sebagai “heart/kokoro/qolbun” yang berarti jantung, yang mana tanpa jantung seseorang tidak bisa hidup, dan disebutkan pula sebagai pusat seluruh kepribadian, terutama yang berhubungan dengan perasaan dan emosi.

Sampai sekarang di Indonesia organ tubuh yang populer dipakai untuk menyimbolkan perasaan adalah hati. Awalnya, bukan hanya di Indonesia saja hati sebagai simbol perasaan atau emosi tetapi hampir seluruh dunia merujuk pada organ hati (bukan jantung).

Jika kita merunut perkembangan simbolisasi ini dan mengaitkannya dengan bagaimana dunia Arab pernah membawa ilmu anatomi Yunani Kuno pada masa Galen, mungkin ilmu ini telah disebarkan juga ke Indonesia. Kemudian, bisa jadi masyarakat kita ‘terlambat’ menerima ilmu anatomi baru (dimana jantung mulai dianggap lebih penting dari hati) sehingga tidak mengikuti sosiokultur untuk mengubah ‘jantung’ sebagi simbolisasi jiwa atau perasa. Ketika bangsa barat mulai masuk ke Indonesia, penggunaan hati sebagi simbol sudah terlanjur mendarah daging.

Permasalahannya di Indonesia adalah tidak berubahnya pengertian hati sebagai perasaan dari awal munculnya hingga sekarang. Padahal negara-negara lain sudah mengubah pengertian perasaan, emosi, seluruh yang terkait dengan kepribadian manusia menjadi jantung (baca : heart). Ada pendapat yang mengatakan, ini karena bangsa kita saja yang tidak mau menerima pembenaran dan tetap berpegang dengan teori terdahulu. Bisa dikatakan sesuatu yang salah yang sudah terlanjur terjadi dan dijalankan bertahun-tahun, walaupun salah akan jadi sesuatu yang benar menurut pandangan siapapun.

Tidak akan berubah jika tidak ada yang mau merubahnya menjadi benar. Apakah kita harus memperbaharui perbendaharaan kata kita dengan mengubah kata “hati” menjadi “jantung”? Terdapat pendapat lain menganggap itu tidak perlu dengan penjelasan dari segi pendekatan sosial dan budayanya. Karena bahasa adalah budaya, jadi belajar bahasa sama dengan belajar budaya. Bahasa tidak hanya bermakna harfiah (literal), tapi juga bisa dalam bentuk kiasan (idiom). Kita bisa menggunakan apapun untuk mengungkapkan sesuatu, asal ada kesepakatan bersama dalam suatu komunitas.

Seperti kebiasaan orang Inggris yang suka menggunakan jenis-jenis warna untuk menunjukkan suasana hatinya, seperti “I feel blue” yang bermakna saya sedih; Kalimat “May I wash myhand?” yang artinya bolehkah saya mencuci tangan saya, sebenarnya diartikan untuk meminta izin ke kamar kecil. Ada lagi istilah “ac/dc” di Amerika bermakna banci, tapi di negara lain itu berarti arus bolak balik. Jika ditinjau dari sosiokulturnya bahasa bisa berlaku tergantung pada siapa saja yang sepakat memakainya. Jika kita memaksakan jantung sebagai pengganti istilah hati yang selama ini kita gunakan untuk mengungkapkan perasaan dan batin, silahkan saja asal semua setuju, atau kita bisa saja menggunakan kata lain asal disepakati oleh 220 juta orang negeri ini.

Jadi kayaknya kita harus bisa menerima kenyataan kalo jatuh cinta itu merujuk pada jantung bukan Hati, dan negara-negara luar arti kata hati diartikan sebagai sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan tersebut) serta menjadi sentral dari tubuh padahal di negara-negara luar itu adalah fungsi jantung?

Coba kita tengok bahwa kata Life atau Live memiliki kemiripan dengan Liver(hati) – yang boleh jadi berakar pada hal yang sama. Bahasa Jerman pun seperti itu hidup (Leben) dan hati (Leber). Kata Hati pun masih dipakai di negara-negara di dunia untuk menyimbolkan keberanian (courage) atau perasaan (affection).

Ini mungkin karena cara pandang orang bule dan orang Indonesia yang beda soal perasaan. Kalau orang bule, sakit hati itu dirasakan di jantung. Betapa sakitnya dada, kalau perasaan itu dilukai. Sedangkan, orang Indonesia, kalau diputus cinta, yang sakit itu hati. Katanya, sumber perasaan itu di hati. Ah, orang Indonesia suka rancu nih. Hati ya hati, tempat makanan diolah jadi darah. Jantung itu adalah pusat peredaran darah.

tapi menurut saya orang yang mengucapkan hati dengan maksud jantung, itu tidak salah, jika tahu ilmunya. Karena hati yang bermaksud jantung berasal dari kata heart. Dan ingat, heart dibaca hat, bukan het. Karena pembacaan het untuk kata hurt yang artinya luka.
Kesimpulannya, kata ‘hati’ yang berasal dari kata ‘heart’ menjadi sinonim dari kata jantung, dan menjadi homonim dari kata hati yang bermaksud liver.

Orang lebih suka menggunakan kata hati dari pada jantung, apalagi dalam kata-kata cinta, puisi cinta, dan lagu-lagu cinta, karena istilah hati terkesan lebih mendalam kepada perasaan dan emosional. Sedangkan jantung lebih terkesan biologi berupa organ dalam tubuh.

So, kita gunakan aja makna kata yang kita percayai toh jika cuma kita yang menggunakan dan orang lain ga tau ilmunya maka terdengar aneh. hihihi, panjang juga yaa?

Btw, ini saya ambil dari beberapa sumber.

Source:
http://nunuhnurjaman.blogspot.com/2012/09/heart-is-love-heart-is-hati-or-heart-is.html
http://rancu.blogspot.com/2006/09/heart.html
http://www.kaskus.co.id/thread/52d5402bc1cb17371a8b45ac/bahasa-indonesia-mengapa-jantung-disebut-hati

Post Comment

Thanks for your comment